Friday, 22 February 2013

Dasar Pecandu

Standard


Apa ?

Suaraku ?

Dasar pecandu.

Sejak kapan suaraku merdu ?

Apa rasanya semanis madu ?

Apa lantunannya begitu syahdu ?

Dasar pecandu.

Baru saja bertemu sudah merindu.

Apa aku pangeran dan kamu putri salju ?

Tidur panjangmu yang butuh kecupku ?

Dasar pecandu.

Berbaring santai di bawah lampu. Menunggu VN sebatas mampu.

Apa lagi pecandu ?

Belum kenyang matamu melahap, bukankah kita sempat bertatap walau sekejap, hingga kini sebelum kau terlelap, kau masih ingin dengarku mengucap.

Selamat malam pecandu. Cepat sembuh ya pipimu, agar aku bisa menyentuhnya tanpa ragu.

Nona belanda sedang murung, titik dua tutup kurung.

Skyfall

Standard


Aku suka senyum kamu, terlebih jika senyum itu karena aku meski bukan untuk aku. Membuatmu tersenyum mungkin takdir Tuhan untukku, menikmati senyummu bahagiaku. Setelah lama tak ku nikmati senyum itu...Hemm...tunggu sebentar. Mungkin kalender masehi tidak menghitung lama, mungkin rinduku yang berlebih. Mungkin.

Sejak pertengkarang lucu kita kemarin, kupikir kita akan saling tak acuh. Iya lucu, kamu cemburu karena dia sahabatmu, jika bukan, mana ku tahu. Tapi untungnya ada Sky Fall yang buat aku penasaran, dan ada dia yang menjawab kepenasaranku itu, serta disertakannya namamu yang buat aku makin tak sabaran.

Sempat aku berpikir ini akan membosankan, meski 007 bertengkar hebat di atas kereta yang melaju cepat, kamu terlalu sibuk berdua layaknya wanita mengumpat. Tapi waktu mencairkan suasana, kita tersenyum seraya bertatap. Andai James Bond sempat melihat, mungkin dia akan benar-benar mati karena kalah memikat. Aku terpikat, seperti suara petir, selalu kalah cepat oleh kilat.

Kamu tahu, sampai ketika M benar meninggal, sampai ketika gusarmu benar tertanggal, aku sadar ini semua harus tertinggal. Tapi biarlah, aku senang, kamu juga senangkan ?

Karena bila semua malam seperti malam itu, mana kita pernah tahu rasanya merindu.

Maaf, baru kali ini kamu bisa dengar ini. Aku hanya tidak ingin buatmu terlalu besar kepala, karena harusnya pintu hatimulah yang kamu perbesar untuk menerima setiap proposal cinta yang datang.
#inspirasi dari adekakakzone

Tuesday, 19 February 2013

Langit Kita Rindu

Standard

sumber: aibome04.multilpy.com

Langit kita rindu.

Belum lama, belum seminggu kita tak bersua, tapi yang namanya jatuh cinta, tanpamu sehari saja tetap berbeda. Senyum yang dengannya aku terbiasa melihat surga hanya bisa kunikmati dari potret saja. Dari layar kecil yang jarang aku tinggal walau ketika buang air besar.

Selalu saja rasanya ingin bersamamu.

Mungkin, karena tamumu, kamu jadi begitu kesal hari ini, ditambah hujan semalam tadi. Rindumu egois. Aku juga rindu, tapi kalau kamu terus seperti itu aku bingung. Apa salahku ?

Aku bukan Thor, dewa petir yang bisa membelah langit, memisahkan cerah dan hujan, memisahkan langit kita. Atau memang benar cowok selalu salah L

Sayang, kita ini sedang rindu, harusnya madu, kamu bisa jadi abu kalau kamu bete terus, mukamu cemberut, nanti hilang cantikmu.

Kita memang sama-sama pecandu, pecandu senyum, pecandu tawa, pecandu tenang dalam pelukan, pecandu riang dalam kecupan, kita pecandu rindu dalam bahagia sayang. J

Cinta Seminggu

Standard

sumber: fiksi.kompasiana.com

Hari ini hari Senin dan kamu masih jadi orang yang aku kangenin. Kamu inget waktu itu di hari Selasa, dipertama kalinya kamu kenal aku, Kristiawan Balasa. Pertemuan kita di hari Rabu, sewaktu langit kelabu, ketika kamu bangga beralmamater biru. Di hari Kamis, kamu tersenyum manis, mengarah ke aku lelaki berkemeha garis-garis. Hari Jum’at aku gak ketemu kamu, aku harap kamu tetep sehat. Sabtu, aku berpikir aku kamu jadi kita, jadi satu. Hari Minggu, kamu mulai gangu pikiran aku, aku cari tahu tentang kamu, kata mereka kamu pindah kota. Aku terdiam, aku harap kamu datang, pulang ke kotaku, tempat awal kita bertemu. Aku menunggu :) 

Thursday, 14 February 2013

Akun Rindu

Standard



Yang tak tampak, seringkali mengganjal di dada. Jika harus aku wakilkan dengan kata, ia terbiasa aku kenal sebagai rindu. Sapamu di linimasa saat kamu baru terbangun dari lelap, sambil menguap mencari keypad yang kemudian kamu tatap, lebih aku kenal sebagai pagi, ketimbang matahari ataupun kokokan ayam bernyanyi.

Kalimat singkat namun khasiatnya melebihi obat. Mujarab, mengaliri pembuluh darah, memompa jantung dengan cepat, menguatkan hati, melangkahkan kaki bersama senyum sepanjang hari.

Senada, menjalankan alur cerita meski tanpa hesteg ataupun mention nama. Kita pernah melakukannya, dan sempurna. Bila ada yang mengecap kita norak, wajar saja. Setiap orang  akan menjadi norak pada waktunya. Seperti halnya kita, ketika sama-sama jatuh cinta. Kita ? Kamu aja tuh sama pacar kamu. Iya, maksudnya aku. :D

Aku tahu kamu pencemburu, kamu juga tahu bagaimana aku. Seringnya memang khayalku terlalu tinggi. Kamu lihat sendirikan bagaimana aku bercanda dengan bulan dan matahari ?

Khayalku yang tinggi memang kadang buatmu risau. Seperti dalam twit sepik, yang begitu apik bermain dalam cemburu, mengobrak-abrik rasa percayamu hingga menampik kata-kataku kalau itu semua tentang kamu. Atau sajak-sajak yang aku paksakan untuk puitis itu, terlalu membebani pikirmu untuk menjawab pertanyaan mereka yang merasa paling tahu tentang aku ketimbang kamu. Atau twit kecurigaanku terlalu bodoh hingga aku salah karena pernah curiga kita berjodoh.

Tapi, apa aku tak pernah membuatmu tersenyum, bahkan bahagia dengan apa yang kamu baca di linimasa ? Apa aku tak mengakrabkanmu pada Tuhan selain di atas sajadah karena senyum itu ibadah ?

Aku meminta maaf jika kicau linimasaku membuat pikirmu kacau. Beginilah aku dengan segala kelebihanku, karena kekuranganku telah tertutupi kamu.

Aku merindu sapa, aku merindu kamu di linimasa, aku rindu membuat mereka iri pada kita, aku rindu @RiriJendol dalam twiternya.