Sunday, 1 September 2013

Sekotak Sepi

Standard

Pagi ini rindu mengetuk atap rumahku. Datang beramai-ramai. Menjinjing sekotak sepi. Oleh-oleh katanya.
*
“Kamu bertamu terlalu pagi rindu, bahkan aku belum sempat gosok gigi”, keluhku.
Beberapa hari ini rindu selalu datang bertamu, tepatnya sejak rumahku mulai ditinggal penghuninya. Sering terlalu pagi, kadang juga di malam hari. Rindu memang tak kenal waktu. Tidak sehari sekali, bisa dua kali. Tiga kali sehari pun pernah, seperti orang minum obat. Padahal rinduku kini tiada pengobat.
Sebagai tuan rumah yang baik, aku selalu mempersilahkan rindu masuk. Aku buka pintu rumahku lebar-lebar. Aku ajak mereka duduk. Ruang tamu rumahku kini tidak lagi luas, sedang aku renovasi akibat pematahan kemarin. Karenanya, ada beberapa di antara mereka yang menunggu di luar. Di pekarangan, hingga teras depan.
Bila biasanya tuan rumah yang memberi jamuan, kini berbeda. Rindu yang menjamu aku. Disuguhinya beberapa toples berisi kenangan dan juga snack-snack kebiasaan. Ingin menolak, tapi tidak bisa. Aku pandangi toples itu, sengaja tidak aku buka. Terlalu indah untuk aku makan kemudian keluar sebagai kotoran. Biarlah mata yang melahap, lidahku enggan menguyah masa lalu.
“Rindu memang paling pandai memindai waktu”, aku berujar dalam hati sembari lobus oksipetalis dalam kepala mulai memamah isi toples yang disuapi mata.
Perlahan, aku merasa seperti dalam masa yang berbeda. Tidak asing tapi bukan sekarang. Aku berada di depan sepasang mata yang ketika menatapnya dalam, aku melihat diriku di masa depan. Aku berada di depan sepotong bibir yang ketika tersenyum, aku melihat pelangi cekung penuh kedamaian. Aku berada di depan sebentuk tubuh yang ketika memelukku, grativasi seakan hilang. Aku berada di depan sepuluh buah jari tangan yang ketika menyentuhku, aku tahu ini tempat jemariku pulang. Aku berada di depan sepasang kaki yang ketika ia berjalan, kami selalu berusaha berdampingan. Kemudian aku sadar. Aku berada di depan sekeping hati yang begitu aku kenali, penghuni rumahku sebelum sepi.
“Dasar rindu!”
Rindu tersenyum. Entahlah, mereka memang selalu begitu setiap kali datang ke rumah. Hanya sekedar senyum, atau menertawakan aku di dalam hati. Aku tak pernah tahu.
Mataku sepertinya ingin melahap yang lain. Tak kenal kenyang. Mungkin karena aku punya sepasang mata kembar, kanan dan kiri yang sejalan tapi dengan perut yang berbeda. Jika tadi mata kanan yang melahap, sekarang giliran mata kiri yang mulai lapar. Bisa saja sebaliknya. Ia melirik snack kebiasaan.
“Ah, sudahlah mata, apa kau tidak bosan?”, aku protes kepadanya. Mata diam. Protesku sama sekali tidak ia perdulikan. Dimakannya hingga habis tak bersisa.
“Dasar rakus! Mata sipit yang banyak makan. Apa kau tidak lihat kantung matamu yang sudah membesar? Ini akibat kau yang terlalu sering sarapan snack itu setiap pagi! Aku harus beralasan apa lagi pada teman-temanku nanti? Disengat binatang, kelilipan, semua sudah aku katakan! Bodoh!”. Aku kesal dengan tingkahnya. Setiap pagi. Setiap hari. Selalu begitu. Semoga tingkah itu cepat dibunuh waktu.
Aku lupa kalau sedang ada rindu di rumahku. Aku takut tidak sopan. Jangan sampai ia berpikir kekesalanku ini karena kedatangannya sekarang. “Hehe, maaf ya”. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ada rasa diubun-ubunku yang entah apa.
“Jadi bagaimana kabarnya sekarang?”, tanyaku iseng, sambil mencoba mengalihkan perhatian.
“Dia baik-baik saja”.
“Apa kamu pernah mengunjunginya? Sudah punya rumah baru?”
Keisenganku begitu antusias. Lagi – lagi rindu hanya tersenyum. “Ah, sok manis”, kataku cemberut.
“Ini”. Rindu menyodorkan sebuah kotak kepadaku.
“Apa ini?”, tanyaku penasaran sambil menggoyangkan kotak itu.
“Ini oleh-oleh untukmu. Sepeninggalan penghuni lama sampai kamu bertemu dengan penghuni baru, kami selalu membagikan ini sebagai oleh-oleh”.
“Jadi ini oleh-oleh dari kalian atau penghuni rumahku dulu?”
“Ini oleh-oleh dari kepergian dan kehilangan”.
Sontak aku terdiam. Kepergiannya memang membuat aku kehilangan. Ya, aku kehilangan. Kehilangan dia, indah yang sementara. Kemudian kotak itu aku buka perlahan, aku takut isinya akan mengejutkanku. Dan, benar saja. Di dalam kotak itu hanya berisi sekeping cermin dan sendiri yang berserakan.
“Hanya untuk isi kotak yang seperti ini kalian membawanya beramai-ramai? Apa sebegitu berat?”, tanyaku heran.
Rindu mengangguk. “Lihatlah ke arah cermin di dalam kotak itu. Lihat mata yang menatapmu, lihat sosok di depanmu sekarang, lihat apakah dia benar kamu”.
Seenaknya saja dia menyuruh aku setelah pertanyaanku hanya dijawab sekenanya. Dasar diktator. Walaupun begitu, tetap saja aku melakukan apa yang dikatakannya. Mungkin rindu itu tukang hipnotis. Aku menatap dalam mata orang di cermin, fokusku hanya pada dia.
Aku mengenalnya, air wajahnya aku hafal. Tiba- tiba samar. Cahaya kemudian berpijar. Aku menutup mataku, terlalu silau. Terang mendadak gelap. Seketika aku berdiri di antara sendiri yang sedari tadi berserakan di dalam kotak. Aku terjebak.

Truth or Dare

Standard
“Kelar juga nih urusan”, kata Ambot sembari merapikan lembaran demi lembaran proposal penelitian skripsinya. “Mau kemana lagi?”
Hari itu seperti biasa kami berempat duduk di depan pelataran ruang sidang skripsi kampus kami. Gue, Acong, Jawe dan Ambot, laskar pejuang skripsi fakir sarjana. Gue dan mereka bertiga memang menjadi terbiasa nongkrong di sini. Maklum, sebagai anak semester 7,5 yang rajin, tajam dan terpercaya, kami sudah seharusnya ada di tempat ini, menggantikan senior kami yang sudah mulai sibuk dengan penelitian skripsinya.
Ada semacam tradisi unik yang entah disengaja atau tidak di kampus kami berkaitan dengan tempat tongkrongan. Ini merupakan hasil pengamatan gue selama tiga tahun lebih kuliah di sini. Berbekal lulus mata kuliah metodologi penelitian dengan nilai A dan juga lulus mata kuliah dasar-dasar logika dengan nilai Tuhan. Ya, nilai Tuhan.
Dasar-dasar logika merupakan mata kuliah paling angker di kampus gue, karena diampu oleh sesepuh kampus yang sudah tidak diragukan lagi ke-killer-annya. Saking angkernya, setiap mata kuliah dimulai, mendadak hening, bulu merinding dan tegang berkepanjangan, mungkin mata kuliah ini bisa untuk terapi impoten. Sudah banyak senior yang gugur dalam perkuliahan. Tak jarang mereka mengulang mata kuliah ini dua sampai tiga kali. Bahkan ada seorang senior gue yang udah mengulang empat kali, berhasil lulus dengan nilai B, itu pun setelah ikut SP (semester pendek). Entah karena mereka sayang dosen atau pengen modusin junior-juniornya, tiap tahun kelas mata kuliah ini tetap akan disesaki para senior.
Beda halnya dengan gue, gue berhasil dengan sempurna tanpa Andra & The Blackbron lulus dari kelas itu. Bukan gue sombong dengan mendeklarasikan diri gue kalau punya nilai Tuhan, tapi dosen gue sendiri yang bilang kalau nilai C nilai mahasiswa, nilai B nilai dosen, dan nilai A nilai Tuhan. Kadang gue ngerasa senang, tapi seringnya gue ngerasa ada yang salah dengan logika gue. Atau mungkin dosen gue khilaf.
Tradisi unik yang gue maksud, berkaitan dengan penelitian gue dengan judul pengaruh jumlah semester terhadap tempat tongkrongan ini dengan asumsi sebagai berikut, “Semakin banyak jumlah semester seseorang di kampus, maka semakin dekat pula tempat tongkrongan mereka ke ruang sidang”,  terbukti benar. Anak semester 7 ke atas, pasti lebih sering terlihat di depan ruang sidang dan ruang dosen; anak semester 5 ke atas, lebih sering terlihat nongkrong di selasar kampus ataupun di tempat-tempat sejuk dan rindang seperti di bawah pohon dan di depan mushola yang memang bersebelahan dengan ruang sidang; anak semester 3 ke atas, akan lebih sering terlihat nokrong di depan ruang kelas mereka masing-masing, dan butuh banyak langkah untuk sampai di ruang sidang meski tidak sampai 10.000 langkah Anline; dan anak semester 2 ke bawah akan lebih sering di kelas karena takut dengan seniornya. Studi penelitian gue ini hanya berlaku untuk mereka yang memikirkan tempat lain selain kantin kampus untuk menghabiskan waktu berharganya disela kehidupan organisasi.
“Eh, kemana lagi kita? Sibuk bener sama hape, temen ngomong dicuekin”, Ambot mulai kesal.
“Iye..iye..denger, ke rumah gue aja gimana, ada kaset baru nih, dvd-an dulu kita daripada pusing mikirin skripsi”, Acong memberi usul.
Sepakat. Kami pun akhirnya pergi menyambangi kediaman Acong yang memang tidak terlalu jauh dari kampus, 20 menit perjalanan dengan kuda besi (baca: motor).
***
“Eh, bosen gue dvd-an terus, ngapain kek yang lain, buka puasa masih setengah hari juga ini”, gerutu Jawe sambil memperlihatkan wajah tidak menariknya yang tampak tidak tertarik.
“Hemm. Gimana kalau kita main Truth or Dare?”, gue coba memberi usul.
“Nah, . . . . Itu apaan?”, Jawe cengengesan.
“Monyet! Truth or Dare itu main jujur-jujuran sama berani-beranian, ditentuinnya pake botol yang diputer, kalau kurang jelas, nih baca novel @WowKonyol halaman 217, gue baru hatam kemarin”, kata gue sambil nyodorin novel yang laknat kerennya itu ke mereka.
Sejujurnya, gue juga kurang paham dengan arti asli istilah Truth or Dare, gue mau googling terlalu buang waktu untuk jadi keren, akhirnya gue lebih milih untuk memberikan langsung novel itu ke mereka, supaya mereka paham sendiri karena ketidaktahuan akan lebih mengenyangkan apabila kita mencarinya sendiri, bukan sekedar bertanya atau minta disuapi.
Sebenarnya ini bukan mainan baru, waktu SMA dulu gue juga sering main beginian, tapi gue lupa namanya apa. Maklum, nilai sejarah gue memang sering jelek sejak SD, gue paling susah buat inget dengan nama-nama, nama sepeda kumbangnya Bung Tomo gue gak tahu, kapan rambut Pak Harto mulai memutih gue gak tahu, kapan Liverpool terakhir kali juara gue lupa, tanggal jadian gue aja gue sering lupa. Tapi masih ada yang lebih parah dari gue, sih, namanya Aurel, dia paling cepat untuk bisa lupain mantan.
“Gimana?”
“Boleh, seru juga kayaknya, tapi kita harus sepakat dulu nih, sebagai lelaki sejati kita harus pegang janji. Oke?”, Acong yang mulai antusias. “Oke. Akika, kan, lelaki jantan”, sambung Ambot.
“Jadi gini, karena ini bulan puasa segala tantangan yang bisa membatalkan puasa kita simpan untuk nanti setelah buka, kan hari ini kita udah janjian sama yang lain buat buka bareng di Seafood Gading, nah, di sana kita jalanin tantangan yang udah dikasi, biar gue yang catat, supaya gak lupa”, gue jelasin dengan semangat Dream Team Indonesia waktu dibantai Arsenal 0-7.
“Dan, jangan lupa ini bulan puasa, kita harus jawab jujur setiap pertanyaan, bohong itu dosa, ingat sugesti saya, bohong itu dosa dan mengurangi pahala puasa”, kata Acong sambil bergaya seperti Uya Kuya yang lagi hipnotis istrinya sendiri supaya mau sama dia.
 Mendengar teman-temannya mulai bersemangat, Jawe segera berlari ke dapur. Dibawanya satu botol air mineral 250 Ml dari kulkas, masih dengan air yang menetes dari luar permukaan bo888i tol. Gue pikir dia udah mulai gak tahan buat minum, secara cuaca Pontianak siang itu memang lumayan menyengat, maklum, lebah bernama garis khatulistiwa memang berdiam di wilayah ini. Belum lagi keringat yang terus menetes dari botol buat gue yakin kalau itu botol lagi keringat dingin, nervous digenggam Jawe yang bukan muhrimnya.
Tiba-tiba Jawe membuang air isi botol tersebut, dituangkannya ke dalam gelas tepat dihadapan kami semua. Bulir-bulir air yang perlahan tumpah dan memenuhi gelas itu tampak begitu menyegarkan, setiap tetesnya sangat menggairahkan, seperti air dingin dari kulkas yang terjun bebas di depan orang yang berpuasa, menggoda iman, bahkan untuk gue yang kurang pandai memberi perumpamaan.
“Woi! Serius bener”, Jawe memecah hening. Membuat lamunan kami akan segarnya air dingin pecah berkeping-keping. Nafsu gue patah hati.
“Kapan kita mulai, gue udah ngambil botol juga”
“Iye. . .iye sabar, orang sabar disayang Tuhan, pacar sabar diinjek-injek pasangan”, timpal gue.
“Yaelah die curhat. Sebelum mulai janji kelingking dulu buat semua perjanjian tadi”, Ambot menambahkan. Kelingkingnya mulai ia julurkan. Kelingking yang sebesar ibu jari.
Bagi kami, walaupun sudah menjadi anak kuliahan semester normal, janji kelingking tetap kami lakukan, meskipun merupakan ritual yang mungkin kekanakan bagi sebagian orang. Cara anak-anak yang menurut gue sangat dewasa. Tanpa janji kelingking kita gak akan punya banyak teman waktu TK. Itu pengalaman diri gue sendiri, karena gue gak pernah TK.
Terkadang kita harus belajar ke anak-anak bagaimana caranya bergaul, berjanji dan memaafkan. Bagaimana mereka bermain tanpa beban, bagaimana mereka berteman tanpa kepentingan, bagaimana mereka berjanji tanpa ingkar, bagaimana mereka bertengkar kemudian memaafkan. Hanya dengan janji kelingking, janji dengan jari paling manis di masa kecil.
“Kita mulai sekarang!”, gue memberi aba-aba.
“Duduk melingkar, biar gue yang pertama kali memutar botol ini. Kan, gue yang punya ide. Siap!”, gue mengambil ancang-ancang untuk memutar botol itu dengan kencang.
Botol berputar dengan kencang, Casey Stoner pun akan kalah kencang oleh kecepatan putaran botol itu. Lagian kenapa Casey Stoner bawa motor cuma muter-muter?
Mulut botol berhenti tepat di depan Ambot. Ambot mulai melirik genit ke gue. Gue agak gusar.
“Mbot, cuma mau mengingetin nih, lo itu pergi ke kampusnya nebeng gue. Cuma ngingetin aja sih”, kata gue dengan wajah malaikat.
“Curang, main gertak. Ya udah, gue pilih Jawe”, Ambot menentukan pilihannya.
Gue lega. Gue bebas sementara untuk jadi korban kejahilan Ambot. Gue punya pengalaman buruk dijahilin oleh dia. Gue pernah dibuat malu semalu-malunya malu. Foto gue tidur dengan mulut menganga dijadiin display picture BBM BB gue sendiri, tentunya dengan banyak editan di sana sini. Bukan hanya itu, foto gue di-share ke grup BBM kampus gue. Alhasil, pamor keren gue dihadapan para junior turun drastis. Sama kayak posisi QPR di klasmen liga Inggris musim lalu.
“We, pilih Truth or Dare?”, serang Acong walaupun bukan dia yang memilih korban. Matanya berbinar, terlihat sangat bersemangat dengan permainan ini.
“Tantangan aja lah”, jawab Jawe dengan wajah pas-pasan.
Ambot tersenyum sumringah, entah apa yang ada di kepala anak itu sekarang, gue sama Acong saling tatap, antara menunggu dan curiga hal aneh akan terjadi.
“Oke. Tantangan yang bakal gue kasi gak susah kok, lo cuma harus sedikit berani untuk menyampaikan kekesalan lo selama ini”, Ambot menjelaskan perlahan dengan suara dimainkan sedewasa mungkin.
Jawe bingung. Gue dan Acong sama-sama garuk kepala. Gue garuk kepala Acong, Acong garuk kepala gue.
“Apa sih yang mau dibilang sama ini orang, penasaran”,batin gue.
“Kan selama ini lo kesal sama dosen pembimbing lo yang rada ribet, sering ke luar kota dan banyak maunya itu. Lo lihat kan, nomor telpon sedot WC di tiang listrik depan”, kata Ambot sambil menunjuk tiang listrik yang tiap hari mangkal di depan rumah Acong.
Hening sejenak.
“Jadi maksudnya, gue mesti telpon nomor sedot WC terus ngaku dengan nama dosen pembimbing gue minta rumahnya disedot gitu?”, Jawe menebak kaget.
“Persis”, jawab Ambot ringan. Jawaban yang bertolak belakang dengan berat badannya.
“Monyet! Gak mau gue, entar kalau ketahuan bisa makin dipersulit skripsi gue.”
“Janji adalah janji, mau gak mau lo harus lakuin dong. Ini gue juga sekalian bantuin supaya lo bisa salurin kekesalan elo, gak cuma ngedumel terus ngetwit ngeluh mulu tiap hari di TL”, Ambot tetap berusaha menjelaskan sebijak mungkin.
“Ya, tapi entar kalau ketahuan gimana? Parah juga ide lo Mbot”, gue ikutan ngomong sambil cengengesan. Di satu sisi ini emang ide yang agak kelewatan, di sisi lain gue juga pengen dosen itu dikerjaian. Gue kesal sama itu dosen, tiap mata kuliah dia yang gue ambil nilainya selalu C. Ambot juga begitu, mungkin ini salah satu caranya melampiaskan kekesalan lewat orang lain. Ide yang kampret.
“Nih, pakai nomor hape gue, kalau lo takut ketahuan”, gue mencoba memberikan bantuan tanpa pikir panjang. Gue memang punya dua nomor hape, yang satu sebagai nomor tetap, yang satu lagi akan selalu gonta-ganti tergantung provider hape pacar atau gebetan gue. Mitosnya, nelpon ke sesama operator itu murah. Dan ini jadi salah satu strategi pacaran yang selalu gue terapkan.
“Tapi lo tahu alamat rumah dosen pembimbing lo itu kan?”, seruduk Acong sambil menyodorkan nomor telpon sedot WC yang tanpa kami sadari sudah dia renggut dari tiang listrik belia itu.
Jawe mengangguk pelan. Dengan pasti dia mulai mengetik nomor telpon biro jasa sedot WC. Gue, Acong dan Ambot tersenyum senang.
Saat telpon terhubung dan Jawe mulai dengan pasti berbicara layaknya orang dengan safety tank kembung di rumahnya bertanya-tanya kepada abang sedot WC yang bersuara cempreng, gue, Acong dan Ambot cuma bisa cengar-cengir sambil menahan tawa. Untung ada gigi, bibir dan tangan sebagai tembok penghalang tawa kami.
Sampai pada akhirnya Jawe menyebutkan nama dan alamat rumah dosen pembimbingnya itu, tiba-tiba tawa kami pecah. Dengan segera kami berlari ke luar rumah supaya gak kedengaran abang sedot WC.
Jawe keluar rumah sambil tersenyum lega kepada kami, sementara kami masih sibuk dengan kotak tertawa kami yang tiba-tiba pecah sampai membuat perut keram. Mungkin lebih keram dari wanita yang lagi PMS. Begitulah lelaki, memang harus sok tahu urusan wanita.
“Puas kalian?”, wajah Jawe tampak puas namun kesal.
“Hahaha. Puas pake banget!”, jawab kami serentak. Entahlah kenapa kami bisa menjawab dengan sama dan senada, mungkin kami bertiga memang berjodoh.
Kami kembali masuk kemudian duduk bersila membentuk segi empat, karena membentuk lingkaran sudah terlalu mainstream. Botol kembali diputar, kali ini Jawe yang mengambil giliran memutar botol. Sengaja diputarnya pelan, mungkin dia melakukannya supaya dia yang mendapat kesempatan untuk menunjuk korban. Aura balas dendam terpancar keluar dari ubun-ubunnya.
Tutup botol itu hampir berhenti tepat dihadapan jempol gue, gue mulai sumringah. Tapi tiba-tiba botol berputar pelan kemudian berhenti mengarah ke Acong.
“Hahaha, giliran gue. Jempol kaki lo bau sih, makanya botolnya gak mau berhenti di situ. Hahaha.”
“Kampret !”, gue protes. Gue kembali tegang. Maklum, kami berempat ini adalah sahabat kental, saking kentalnya persahabatan kami, orang-orang yang keracunan bisa meminum kami demi kesembuhan. Seperti susu memang. Manis, menyehatkan. Apa sih.
“Tegang bener lo, biasa aja kali”, kata Acong sambil menunjuk hidung pesek gue. Matanya begitu bercahaya, seperti sedang melihat masa depan di dalam ketegangan gue. “Gue pilih elo”, Acong kembali menunjuk hidung pesek gue.
“Jangan tunjuk ke sini juga kali, mentang-mentang mancung. Hidung gue ini pesek gegara gue gak pernah bohong”, gue sewot. “Gue pilih Dare aja.”
Belum Acong bertanya, gue udah keburu menetapkan pilihan. Udah jadi kebiasaan gue untuk selalu menetapkan pilihan bahkan sebelum diminta. Dunia percintaan membuat gue banyak belajar akan itu.
“Pas, sekarang gue cuma mau elo mencatat doang kok, catat di hape elo kalau nanti setelah buka puasa lo harus makan udang. Simpel, kan?”
DEG. “Gue alergi udang monyet!”
“Ah, paling cuma gatal-gatal jam 3 pagi, sekalian sahurkan? Jadi lo gak susah buat dibangunin”, Ambot kembali bicara dengan ringan.
Gue pasrah. Yang ada dipikiran gue sekarang cuma bagaimana caranya untuk tetap makan udang tanpa harus alergi. Apa gue harus minum persahabatan kami yang kental itu?
Tantangan itu gak gue catat, karena sudah pasti mereka bertiga akan ingat. Mencatat rencana bunuh diri bukan suatu hal yang menyenangkan, kecuali gue korban cuci otak para teroris.
Botol kembali diputar dan beruntungnya Acong kembali mendapat kesempatan untuk menunjuk korban. Sekarang gue agak tenang, barusan gue udah jadi korban. Walaupun korban bisa ditunjuk dua kali berurutan tapi gue merasa yakin gue akan bebas kali ini. Kalau gue dua kali beruntun kena jadi korban gak seru dong? Atau justru itu yang seru? Seketika, tenang menjadi tegang.
“Ue, gue pilih lo lagi”, kata Acong mantap. Tapi dengan nada bicara dan sorot mata yang berbeda.
“Gue lagi, gue lagi”, gue menghela nafas panjang, saking panjangnya ujung nafas gue gak bisa dilihat dengan kasat mata. Cuma Allah dan malaikat Izrail yang tahu. “Gue pilih Truth aja sekarang, entar malah disuruh yang aneh-aneh lagi. Gue trauma.”
Acong tersenyum aneh. Senyum yang biasa gue lihat kalau dia udah mulai membahas hal-hal serius. Sepertinya gue memberi jawaban pilihan yang salah. Dengan nada suara yang dipelankan, Acong melemparkan pertanyaan, “Bener, sekarang lo lagi deket sama Naya?”
JEGGER!
Lemparan pertanyaan dari Acong gue tangkap dengan kaget. Naya adalah salah satu junior gue yang pernah dideketin Acong, namun tanpa alasan pasti akhirnya Naya menjauhi Acong. Yang gue tahu mereka gak sempat jadian, hanya saja Acong sepertinya begitu tertarik dengan Naya, sempat beberapa kali waktu itu, Acong menggunakan foto Naya sebagai display picture BBM-nya. Dimana saat itu gue juga berpikir kalau mereka sudah jadian. Ternyata tidak, Naya sendiri yang cerita ke gue. Memang, sejak Naya menjauhi Acong dan kini Acong sudah pacaran dengan Dela, gue dan Naya jadi sering BBM-an, dia selalu curhat tentang apapun ke gue.
“Hmmm...”. Kamera di zoom in ke muka gue, tahi lalat gue mempertunjukkan pesonanya.
Gue masih tercengang dengan pertanyaan Acong, bibir gue beku, lidah terasa kaku. Ada rasa gak enak dalam hati gue. Naya dan Acong memang gak sempat pacaran, tapi Acong adalah sahabat gue dan suka sama dia. Gue sudah memikirkan ini sejak awal gue dan Naya BBM-an, tapi seringnya malah tersapu oleh rasa nyaman. Satu hal yang gue takutkan, Acong akan berpikir bahwa gue lah penyebab Naya menjauhinya. Dicap menusuk dari belakang bukanlah hal yang bisa dibanggakan, kecuali gue Rambo di perang Vietnam.
“Iii..iya”, gue jawab dengan terbata. Acong tersenyum kecut. Belum sempat dia bicara, gue buru-buru menempelkan telunjuk gue tepat ke bibirnya.
“Astagfirullah”, gue tersadar.
“...gue memang lagi dekat dengan Naya, tapi itu setelah lo udah gak dekat dengan dia dan lo udah pacaran sama Dela. Bukan gue yang buat Naya jauhin elo. Naya pernah bilang ke gue kalau yang buat dia ngejauhin lo itu karena....”, tiba-tiba gue diam. “Gue udah janji sama Naya kalau gue gak akan cerita ini ke elo. Sorry... seperti kata elo, lelaki sejati selalu pegang janji.”
Acong kembali tersenyum, senyum yang berbeda, sedikit ngehek.
“Santai aja kali, gugup amat jawabnya. Hahaha.. Gue gak marah kok, cuma ngetes lo doang, ternyata lo mikirin perasaan gue juga ya, gue terharu. Cini cini peyuk!”
“Hehehe”, gue cuma bisa nyengir kuda. “Kampret, gue dikerjain”, teriak gue dalam hati. Malu bercampur senang. Jawe dan Ambot hanya diam menonton kami berdrama seperti di film-film Korea.
Tiba-tiba Ambot dan Jawe bertepuk tangan serempak. “Orang sahabatan mesti gini, harus saling jujur dan memaafkan. Kalau gak ada yang ditutupin, kan enak. Lebih isis kalau kata orang Jawa”, Ambot bijak.
“Udah cukup dramanya? Udahan, yuk, mainnya. Udah mau ashar, entar mau bukber lagi, pulang dulu siap-siap”, sambung Jawe sambil memperhatikan jam tangannya.
Sementara mereka mulai berkemas, gue masih diam dengan perasaan kurang nyaman. Gue menghampiri Acong yang sedang di dapur mengisi air di botol yang tadi kami gunakan untuk bermain Truth or Dare.
“Sekali lagi maaf ye Cong”
“Hahaha.. Iye santai, asal lu gak lupa satu hal!”
“HAH ! Apaan?”
“Lo mesti makan udang kalau udah buka puasa entar”, katanya sambil tersenyum simpul. Senyumnya anak pramuka.

“IYE”, jawab gue bete.

Sunday, 5 May 2013

Perempuan Dalam Mimpi [Episode 2]

Standard
Tulisan ini merupakan lanjutan project #FlashFictionBersambung @benzbara_ Perempuan Dalam Mimpi Episode 1



Perempuan Dalam Mimpi Episode 2


Sore.

Saat dimana matahari pulang bekerja dengan menjinjing senja. Aku baru saja meninggalkan kafe itu dengan perasaan yang tak menentu. Ini benar-benar hari yang aneh. Entah mengapa aku datang kembali menunggunya di sana. Di kafe itu, tempat biasa kami memadu rindu. Sejak kepergiannya dua bulan lalu, aku tak pernah lagi mengunjungi kafe ini. Aku takut, ingatanku tentangnya akan membuat dia tidak tenang di sana. Di sisi Tuhan, dalam pelukan bidadari-bidadari surga.

Aku sendirian. Hanya termenung sambil sesekali menyeruput kopi dan sepuntung rokok yang biasa dia pesan. Ya, aku memang sedang mengenangnya di sini, mengingat kebersamaan kami yang sudah berjalan hampir tiga tahun, bahkan berencana untuk menikah. Mengingat bagaimana dia biasa membelai rambutku, bagaimana dia memeluk erat tubuhku, bagaimana dia mengajak aku bercanda, bagaimana dia membuat hidupku lebih berwarna. Aku mengingatnya dengan rasa hilang yang besar dan senyum yang kecil. Lagi-lagi aku tidak ingin membuatnya tidak tenang di sana. Aku harus ikhlas, membiarkan dia menjadi kekasih Tuhan seutuhnya.

Keanehan kedua hari ini. Aku didatangi seorang lelaki.

Kedatangannya memecah hening lamunanku. Tiba-tiba saja dia menyerudukku dengan berkata, “Kamu perempuan yang ada di dalam mimpiku”.

Aku heran. Aku tidak mengenalnya, melihatnya pun belum pernah. Tapi dengan yakin dia berkata demikian. Tidak cukup sekali, bahkan berulang kali dia mengatakannya. Aku hanya mengimbangi percakapan ini dengan tanya dan raut wajah heran. 

Benar-benar orang yang aneh. Baru saja bertemu sudah mengatakan aku perempuan yang seringkali hadir dalam mimpinya. Benar-benar modus berkenalan yang aneh menurutku. Unik ? tentu saja tidak, itu aneh. Selain itu dia juga menyebalkan. Dia sudah membuyarkan kenanganku di sana. Kenangan yang sedang aku gali dari tiap jengkal ingatan dalam otak yang tersimpan rapi di hati. Ya, aku selalu mengingat tiga tahun kebersamaan kami dalam otak, dan yang baik-baik akan menjadi kliping terindah dalam hati. Kenangan buruk sudah aku buang jauh. Bukankah hati diciptakan Tuhan untuk mengembangbiakkan kebaikan dan keindahan ?


Hey, tunggu sebentar. Sepertinya dia mengubah mood ku sekarang.

Friday, 22 February 2013

18 Januari 2012

Standard



Tanggal 18 Januari kemaren gue ulang tahun, sebelumnya mari kita ucapkan selamat buat kedua orang tua gue dan keluarga gue yang udah berhasil merawat gue sampai usia gue 19+1 tahun sekarang, juga buat temen-temen gue yang udah bertahan 19+1  tahun di sela-sela perjalanan hidup gue, dan wanita-wanita yang sering kali khilaf deket gue. Di sini gue juga mau ngucapin banyak-banyak terima kasih buat kalian semua, buat temen-temen yang udah ngucapin doa dan selamat ke gue beserta tagihannya, buat kalian semua yang kenal gue dan kalian yang gak kenal dan kebetulan (terpaksa) tersesat ke sini, ini kado dari gue buat kalian semua. :*

Gue bingung, kenapa banyak orang yang suka ketika mereka berulang tahun. Bikin pesta, tiup lilin, girang sekali. Buat gue ulang tahun itu ibarat makan di restoran, awalnya kita di baik-baikin, “Selamat ya selamat, happy brithday”, di doa’in, “Semoga panjang umur, murah rezeki, tambah ganteng (doa yang hanya bisa terwujud dengan operasi plastik)”. Ada yang nelpon, sms, lewat facebook, twitter, bbm, telegram, fax, JNE, TIKI, semua seperti pelayan di restoran yang begitu sopan menawarkan suguhan, tapi ujung-ujungnya setelah kita kenyang, seneng, akan keluar tagihan. “Jangan lupa makan-makannya ya”, “Ditunggu makan-makannya”. Kenapa ? Apa harus makan-makan ? Umur gue berkurang satu, dan lho semua bahagia minta makan, mikir men, lho gak ngerti perasaan gue, cicilan kolor lampu gue belom selesai di bayar !

Udah gitu yang nagih itu rame, temen gue di facebook aja ada seribu lebih. Memilih untuk mentraktir dia atau tidak ketika berulang tahun itu sama dilemanya seperti harus memilih antara Cut Tari atau Luna Maya, walaupun tetap Ariel yang tahu kualitas mereka saudara-saudara. Kalo gue traktir yang ini, nanti yang lainnya ngiri, kalo traktir yang lain, nanti yang ini sama yang lain-lainya lagi iri, gitu-gitu terus sampe kiamat. Bikin bingungkan ? Sebenernya gue udah punya ide bagus buat mecahin masalah ini, gue bakalan bikin Pesta Kuaci. Jadi, nanti mereka akan gue undang ke rumah gue, lalu gue bagiin ke mereka kuaci satu-satu dan kita memakannya dengan serempak. Kebersamaan dan solidaritas itu nomor satu. Tapi entah kenapa menurut gue karakter orang Indonesia tidak cocok dengan tema pesta yang akan gue buat ini, akhirnya gue urungin niat mulia ini.

Ide gue yang kedua, gue pengen buat Pesta Kebun. Jadi gue akan pake halaman rumah gue buat tempat acaranya, gue sebarkan undangan dengan tulisan besar di bawahnya,”DIWAJIBKAN MEMBAWA MAKANAN DAN KADO MASING-MASING, BAGI MAKANAN TER(E)NAK AKAN MENDAPATKAN KESEMPATAN BERLIBUR KE BALI (indah permai 2)”. Ide brilian, kalo makanan dari gue, mungkin mereka ada yang gak suka, ada yang alergi udanglah, gak makan ikanlah, itukan ngerepotin gue sebagai tuan halaman. Demi kenyamanan bersama, gue mengharuskan undangan bawa makanan sendiri, dan kado tentunya. Agar kita sama-sama bisa ngikutin acara dengan wajah sumringah. Tapi setelah gue pikir-pikir, banyak temen gue yang masih kuliah dan mereka nge-kos, dan makanan terenak bagi anak kos di tengah bulan menjelang akhir bulan adalah indomie + nasi putih, sukur-sukur dapet telor nyolong punya ibu kos. Karena gue gak mau cerita Pesta Kebun di acara ulang tahun gue masuk ke cerita indomie dengan jargon, “ Cerita Indomie, ini deritaku, mana deritamu ?”, ide-ide inovatif gue kembali gue urungkan.

Kalo gue boleh milih, daripada di doain panjang umur, gue lebih pengen di doain gak pake ulang tahun. Kalian pernah banyangin, misalkan ulang tahun ketika umur kita udah hampir kadaluarsa, lalu ada malaikat dateng, dengan pakaian putih-putih, lalu bilang, “Maaf pak, ada kabar buruk, saya sudah berusaha agar hal ini tidak terjadi, tapi maaf, bapak ulang tahun hari ini, dan itu artinya hidup bapak sampai di sini”. Kalo gue akan jawab,” Apa ?!” Zoom in Zoom out dengan wajah ngos-ngosan kayak di sinetron. “Bisa tolong tunggu sebentar sampai kue tar ini saya habiskan gak ?”. Apa gak serem, di datengin malaikat di hari ulang tahun, dengan kado surat izin pencabutan nyawa. Itu sesuatu sekali teman. #np: Januari Glend Fredly.

Menurut gue ada kesalahan fatal yang terjadi di Indonesia dalam pengucapan selamat ulang tahun. Akan ada banyak orang yang sengaja begadang buat nungguin jam 0o.o0 dan ngucapin ultah. Itu juga terjadi sama gue. Kebetulan gue adalah seorang lelaki yang terbiasa tidur di atas jam 0o.0o, yah, mungkin ini juga penyebab badan gue kurus. Kadang gue menyesal gak ngikutin kata-kata Bang Haji. Gue lahir kurang lebih pas magrib, tapi kenapa pacar dan temen-temen gue ngucapin ultah jam 00.00. Waktu gue mau lahir dulu, jam 00.00 mungkin ibu gue lagi meringis sesakitan, pegangin perutnya sambil didampingin ayah gue. Kenapa sekarang lho pada buru-buru pengen ngucapin jam 00.00 ? GUE BELOM KELUAR WOII ! Gak kasian apa sama orang tua gue.

Hari ulang tahun adalah hari dimana kebiadaban dilegalkan. Ini momok menakutkan buat gue. Tanggal 18 kemaren, tepat saat gue UAS. Karena tugas UAS gue takehome, jadi gue ke kampus cuma buat ngumpulin tugas doang. Dan hari itu, gue ngampus nebeng Alip. Sebenernya gue mau bawa motor sendiri, tapi karena temen-temen di kampus udah mengancam gue, terutama Wizar, dia bakalan buat gue pulang sambil dorong motor di hari ulang tahun gue, tawaran mulia Alip buat nebengin gue, gue terima.

Dengan wajah polos bak anak baru lahir gue sampe di kampus dengan girang. Secara, tugas proposal penelitian yang gue kerjain selama 4 hari selesai dan udah gue print. Sampe di kelas, tugas udah gue kumpulin, semua udah ganteng, lalu gue ngajakin Alip pulang. Nah, di sini konspirasi busuk temen-temen gue bermula. Alip bilang kunci motornya gak ada, udah kita cari di motor, menyusuri jalan dari parkiran ke kelas, sampe mendaki gunung lewati lembah, itu kunci motor enggan untuk ditemukan. Disini gue udah mulai curiga, dengan pelan, dari hati ke hati, gue tatap dalam matanya, gue tanya ke Alip, “Lip, ini bukan disengajakan ?”. Dengan wajah malaikat berbulu srigala dia jawab, “Yee, gak lah, beneran ilang nih”.

Gue mencoba percaya, tapi naluri gue yang lain tetap curiga, ini pasti konspirasi Yahudi Wahyudi ! Dikehidupan kelas yang lain, temen-temen baik jahat gue lagi pada ujian, kita memang mengambil kelas yang beda, gue ngambil kelas buat masa depan, mereka ngambil kelas buat nilai senang.

Kehebatan bangsatnya Alip memang gak perlu diragukan lagi, mungkin gue bisa sewa dia buat menunda malaikat Izrail, depkolektor Tuhan buat nagih jatah hidup gue di dunia ini suatu saat nanti, waktu ulang tahun terakhir gue. Dengan wajah gantengnya yang sayang kependekan, dia bisa bikin gue pasrah. Ini pertama kalinya gue pasrah selain kalo udah di hadapan wanita. Penguluran waktu yang sangat terorganisir, sehingga memberikan kesempatan buat temen-temen gue yang ujian di kelas nilai bisa keluar dan ketemu gue, idola mereka *rapiin kerah*.

Di sinilah, kebrutalan itu terjadi. Dengan say hello muka manis, berpura ngucapin selamat ulang tahun, tangan gue digenggam tanpa ampun. Kaki panjang gue pun gak luput jadi pelampiasan nafsu syahwat mereka. Gue diangkat, digotong menuju kolam sarjana. Salah satu tempat sakral di kampus gue. Dimana disanalah tempat disemayamkannya ribuan gelar generasi biroe. Juga salah satu spot tujuan akhir umur seseorang setiap tahunnya.

Sebelum acara penggotongan hasil buruan suku kanibal di kampus itu (iya, yang kanibal temen gue, gue hasil buruannya -____-). Terlebih dahulu, 3 butir telur bebek yang jarang mandi dipecahkan di kepala, badan dan hampir dalam celana gue. Mungkin temen-temen gue gak bisa bedain mana penggorengan, mana penggantengan. (Penggantengan: ganteng hasil dari photoshop). Mungkin juga mereka pikir....ah, mana mungkin mereka mikir, bawaannya udah nafsu :/. Kalo aja yang nyeplokin telor itu Farah Queen, gue pasti bakal minta tambah pake telor dinosaurus yang digendongnya di depan badan, tapi apalah daya.

Telor bebek yang jarang mandi itu aromanya amis mampus. Kalo lho pernah ngerasain ikan busuk yang mati terus disimpen di ketek Agung Hercules, seperti itulah kira-kira rasanya. Bayangin, sebelum kejadian itu, hidung gue mancung kayak mainan pelosotan anak di TK, tapi gegara nyium bau telor bebek jarang mandi itu, hidung gue sekarang pesek, kayak kantong kresek yang dikuel-kuel terus dibakar pake api sedang. Menciut.

Amis yang gak ketulungan ini berhasil dengan tanpa revisi buat gue mual, mau muntah. Untung baru kali ini, kalo udah 2 minggu gitu udah beli tespack gue. Alhasil, indomie yang udah gue makan buat sarapan tadi pagi rasanya pengen keluar, tapi buru-buru gue tutup. Enak aje mau keluar masuk mulut gue sembarangan, emangnya nonton konser SM*SH, bisa jebol segampang itu.

Dengan nafsu birahi yang memuncak, temen-temen gue pun mulai mengadon muka dan rambut gue dengan tepung dan kopi. Sepertinya temen-temen gue koki baru yang inovatif, menemukan resep-resep masakkan terbaru. Penglihatan gue terganggu, tapi gak papa, baru kali ini gue ngerasa muka gue putih pake banget. Hehe. 

Gue udah berusaha untuk ngelepasin pegangan mereka, gue udah meronta-ronta keenakan kesetanan untuk tetap menjaga keperawanan gue. Tapi, apa mau dikata, terlalu besar dan terlalu ramai mereka. Otot-otot tangan mereka begitu kekar menggenggam dan mengangkat gue. Bukan masalah sakit, gue takut suka ngeliat otot tangan yang kekar itu. Loh ?

Akhirnya kolam sarjana, disanalah gue akan bernaung bersama lumpur yang udah kayak eek sapi masih anget, lembek dan semerbak. Untungnya gue gak bisa berenang, jadi kolam sarjana hari itu sangat mengerti gue. Dia sengaja gak nyisain air, ya kecuali lumpur eek sapi tadi. Sebelum gue nyemplung di lumpur laknat itu, temen-temen gue terlihat bingung, mau dilempar kemana badan atletis gue. Mereka ke kanan, lalu ke kiri, kanan lagi, kiri lagi, gue yang jadi korban sampe merasa kecewa, harusnya mereka udah mikirin itu sejak awal :/

Dan setelah dirasa menemukan area yang bagus dengan bantuan ahli fengshui tentunya, di tempat yang kadar pH lumpurnya tidak bisa membunuh, bahkan bisa untuk menambah tai lalat gue, gue pun diturunkan. Dengan komando 123, badan gue dilempar. Kalo kalian pernah liat eek sapi yang jatuhnya pasrah amat, gak pake ngeden, seperti itulah kiranya gue waktu itu (entah kenapa terlalu banyak eek sapi ditulisan ini, gak papa deh daripada muka sapi :p). Eh, jangan dibayangin ya, jorok lu ah.

Tubuh indah gue pun mendarat dengan ngejleb di kolam itu. Kalo ada Beby Romeo, Rossa dan Ahmad Dhani disana, mereka pasti udah ngasi 3 YES buat temen-temen gue. Setelah tubuh gue jatuh untung gue masih bisa bangkit lagi, gue gak tenggelam dan tetep tau arah jalan pulang, bukan butiran babu kan gue ?  

Mereka pun tertawa puas, gue curiga mereka emang sengaja ngisi ulang kotak tertawa mereka khusus buat hari ini. Waktu gue beranjak naik ke atas, semua temen-temen gue lari berhamburan, udah kayak lebah dikasi asap, padahal sebelumnya gue udah ngerasa kayak gula dikerubungin semut. Langkah pertama gue waktu naik ke atas berat banget, terlihat gumpalan lumpur yang enggan melepas gue. Sepertinya mereka begitu menikmati tubuh gue. Dasar ! Lumpur jablay ! Hih. Dengan sekuat tenaga gue coba meraih puncak kolam tapi ternyata kolamnya dangkal.

Tubuh gue yang udah amis, putih hitam warna tepung dan kopi kini ditambah dengan bau lumpur yang begitu semerbak membuat gue semakin eksotis. Gue jadi bergairah untuk meluk temen gue satu-satu, tapi apalah daya, kemampuan lari gue kalah cepat dengan kemampuan mereka menghilang. Begitu mata gue bisa ngeliat dengan jelas, mereka keburu lenyap. 

Gue gak putus asa. Gue tetep berusaha buat meluk mereka, tapi tetep kehendak Tuhan beda. Akhirnya setelah adegan kejar-kejaran di sekitaran kampus, gue pun berhasil tanpa pengecualian ngotorin lantai di lorong-lorong kampus. Sebelum petugas kebersihan ngeliat jejak-jejak yang gue buat, gue pun berinisiatif untuk bersihin kabur secepatnya. Dan, di WC musholahlah akhirnya gue bernaung. Tanpa pikir panjang gue mandi. Gak woi gak bugil, kesenengan entar kalian ah.

Gue mandi dengan pakaian lengkap, bebas rapi pula. Dengan seksama gue bersihin lumpur, tepung, kopi dan sisa-sisa telur yang menempel di tubuh gue. Entah mengapa gue ngerasa kotor sekali waktu itu. AKU KOTOR TUHAN !! *lalu tobat*. Dengan basah yang tanpa mendesah, gue pun duduk-duduk ganteng sambil kedinginan, kaos kaki gue terlihat begitu busuk, padahal baru sebulan yang lalu gue beli dan baru sekali cuci. Iya kan baru. Dengan berat hati gue harus memberikan pensiun dini ke kaos kaki gue tadi. Semoga aja dia tetep bisa nafkahin keluarganya walaupun gak kerja dengan gue lagi.

Hampir setengah jam gue biarin tubuh gue kering dengan sendirinya, karena gak ada handuk, kalau pun ada, gak yakin gue ada yang mau minjemin. Alip, yang sedari tadi bertindak laksana malaikat, juga Wizar, masih setia nungguin gue. Ya walaupun gue tahu isi hati mereka yang kegirangan berhasil menjalankan misi rahasianya seminggu terakhir ini. Alhasil, siang itu gue dinyatakan lulus pulang dengan badan basah, tanpa pake sepatu dan helm yang males gue pake. Mungkin orang-orang yang ngeliat gue bakal ngira ada hujan lokal di belakang motor Alip.

18 Januari 2012 latar dari cerita ini, tanggal 19 gue tulis, tapi baru gue lanjutin lagi sekitaran tanggal 18 Februari 2013 kemaren. Iya, udah satu tahun lebih ini gak selesai-selesai, udah kayak skripsinya mahasiswa semester atas aja ini cerita :D . Terima kasih buat temen-temen yang udah berkorban buat ngorbanin gue di 18 Januari 2012 itu, Alip, Ambot, Wizar, Iwan, Pandu, Parlin, Badum, Novi, Keke, Desti, Merry, pokoknya semuanya. Udah capek jari gue ngetik, kalo ada yang kurang tulis sendiri aja. Oke. Pokoknya ulang tahunku tak kan berkesan tanpa kehadiran kalian (copas dari undangan ultah waktu SD) *kecup basah*. Dadah :D