Sunday, 15 January 2012

Smack Down

Standard

Hidup berawal dari mimpi, tapi terkadang mimpilah yang berawal dari hidup. Semalem, gue ngumpul bareng anak-anak haha brother, temen-temen esema gue di Cafe Corner. Sebelumnya, alangkah mulia bila gue memperkenalkan mereka satu per satu. Pertama, Alau, temen gue dari kelas satu asema, dia adalah orang yang meyakinkan gue kalo untuk menentukan suku seorang anak, tidak harus melihat dari suku garis keturunan ayah. Dari nama panggilan aja udah jelas, Alau, mata sipit, kulit putih, wajah oriental dan bila ditanya orang apa, maka dia akan menjawab, ‘Saya seorang tambi”.

Lalu ada Saka, kambing jantan asal medan luntur yang berwajah polos, seperti malaikat di telinga kanan kita, tapi kalo udah ngomong, akan ada naga kembar bersirip lumba-lumba yang keluar dari mulutnya, sedikit tapi nyesek.

Berikutnya Cokent, manusia terganteng di dunia (baca: dunianya sendiri) memiliki jurus ampuh untuk mempengaruhi orang lain, dengan menggunakan kekuatan Eyes Sheel 21 ia akan mengeluarkan jurus “maxxxx” di setiap perkataannya. Kasihan sekali anak murid yang akan dididiknya nanti. Maafkan dosa-dosa Cokent Ya Allah.

Semalem Cuma ada kita berempat, sebenarnya ada dua kenceters lagi dalam haha brother, Risky dan Andri. Risky saat ini sedang kuliah di Bandung, pemilik alis tersipit di dunia versi On the Spot ini bercita-cita untuk mengganti prangko dengan stiker alis, dengan alasan untuk mengurangi penggunaan kertas sehingga mampu menjaga kelestarian pohon di dunia. Go Green. Perannya di dunia sebagai pemilik alis tipis membuatnya tidak ingin melihat hutan kita tipis.

Andri, sewaktu esema ia adalah seorang paskibraka dengan raihan eek kucing yang menempel di celana saat menjadi pemimpin upacara bendera. Kini, ia melanjutkan pendidikan di PLN sambil beternak jerawat batu yang bisa di panen tiap tiga hari sekali. Usaha yang berprospek bagus untuk manusia suka mesum senyum.

Senang rasanya bisa memperkenalkan mereka.

Kita memang udah lama gak ngumpul bareng, Alau sibuk dengan pekerjaannya, Cokent sibuk dengan laporan dan RPP, Saka sibuk dengan futsalnya. Entah kenapa dia begitu suka merumput di lapangan futsal, mungkin dia adalah seorang kambing jantan dari masa depan yang lebih suka merumput di lapangan futsal ketimbang lapangan bola besar. Tapi gue lebih percaya dia pasti gak pernah nonton iklan kambing yang bilang kalo, ‘Rumput gue lebih asik dari rumput tetangga”.

Kesibukan gue ? Menjalankan ajaran yang sedang gue anut beberapa bulan terakhir, jama’ah kebokiah. Tidur dan tidur. Zzzzzttt.

Di berbagai tempat makan ataupun tempat-tempat nongkrong seperti di sini, akan ada satu kesamaan, yakni pelayan yang doyan menghapal.

Baru datang dan merapatkan pantat.

“Pesan apa bang ?”, tanya pelayan.
“Emm...Capucino dingin satu, Extra Joss susu dua (dalam hati: yang kanan mbak), sama Capucino panas, deh, satu”, jawab kami satu persatu.
“Saya ulangi ya bang, Capucino dingin satu, Capucino panas satu, Extra Joss susu dua, betul bang ?”, pelayan nanya lagi.
“Betul mbak, eh, pisang kejunya dong”, tambah Alau.
“Pisang keju ya ?”
“Saya ulang lagi ya pesanannya ?”
“Capucino dingin satu, Capucino panas satu, Extra Joss susu dua, sama pisang keju”.
“Sosis ada mbak ?”, tanya Saka santai.
“Ada, pesan juga ?”
“Nggak, tanya jak.”
Pelayan mulai kesel.
‘Oke bang ya, saya ulangin lagi ...’. Belum sempet dia ngomong, buru-buru gue potong, ‘Gak usah mbak, langsung aja, keburu aus”.

Gue yakin, mbak-mbak tadi waktu masih TPA pasti sering juara lomba hapalan surat-surat pendek.

Banyak hal yang kita obrolin kemaren, mulai dari kuliah, kerjaan, acara tahun baru, pacar, hantu, rukiyah, bola, juga tidak lupa anjing galau laknat sebelah rumah gue.

Ngomongin masalah anjing itu, sekarang intensitas gonggongannya udah mulai berkurang, lengkapnya bakalan gue sampein di postingan gue selanjutnya.

Disela –sela obrolan, mata kami tertuju pada satu titik. Cewek sexy Televisi. Gue lupa di channel apa, yang jelas acaranya adalah WWF Smack Down. Dulu waktu Smack Down masih di tayangin di RCTI, zaman gue esde atau esempe gitu, gue suka banget nonton acara itu, apalagi kalo yang tanding itu Tori, beeeeh, rela deh gak tidur.

Gue inget banget, tiap ada smack down, gue pasti masuk kamar lebih awal. Pura-pura tidur, padahal nungguin jam 11 malem. Begitu jam 11 malem, gue akan mengintip pelan pelan, memastikan kalo orang rumah udah pada tidur semua, terus keluar nonton smack down dengan volume suara dimatikan. Mulut menganga depan tivi, iler berceceran. Gak lah.

Dulu, kalo ngeliat smack down itu keren abis, gayanya keren, berantemnya keren, cara smacknya juga keren, kecuali satu, Rickisy. Apa gak mampus lawannya dikasi pantat babi goyang odong-odong. Pulang-pulang pasti hidungnya jadi ciut, dan divonis terkena penyakit lelekuningitis, gak bisa ngupil karna ketutup bekas eeknya Rickisy. Orang luar negeri cebok gak pake air mamen.

Saking sukanya gue dengan smack down, gue sering maen gamenya di playstation, sering juga maen smack beneran sama adek gue di atas tempat tidur, sampe sekarang gue masih memegang rekor mematahkan satu kaki tempat tidur dan tiga kali keseleo. Sungguh momen-momen brutal yang indah, karena pertarungan gue selalu berakhir ketika ibu gue datang dengan sapu ijuk andalannya.

Semua ingatan indah gue akan hebatnya smack down musnah malam itu. Kekaguman selama hampir sepuluh tahun musnah seketika. Pukulan, tendangan, pitingan, smackan, kuncian itu ternyata hanya trik. Gak pernah ada pukulan yang bener-bener kena, mereka semua hanya pura-pura, ini seperti diving di sepak bola. Kenapa anak kecil polos kayak gue harus dibohongin dengan tontonan sirkus brutal ? Kenapa gue baru sadar sekarang ? Apa Cristiano Ronaldo dulunya dari smack down juga ?

Gue ketawa o’on, dalam hati gue Cuma bisa bergumam, ‘Ya ampun, bodoh sekali aku dulu”. Gue yang dulunya terkagum-kagum tiap nonton, sekarang Cuma ketawa-ketawa, expresi Broker T malam itu bener-bener lebay abis. Dipukul gak kena, dismack juga gak beneran tapi mukanya penuh penderitaan, kayak habis dinistakan dan dikeroyok persatuan bebek engkol se-indonesia.

Akhirnya malam itu gue sadar, smack down memang bukan tontonan yang baik untuk anak kecil, tontonan sirkus brutal itu hanya bisa menjadi hiburan buat orang-orang dewasa. Pantesan dulu sempet ada larangan game smack down beredar. Gue pikir karena para orang tua gak mau anaknya maen tarik-tarikan bra seperti di salah satu option game itu, tapi ternyata eh ternyata, terlalu banyak bin(a)tang sirkus di sana. Saran gue buat seluruh orang tua di Indonesia, siapkanlah sapu pamungkas milik anda untuk mendukung pelarangan smack down di Indonesia. Gue juga pengen ngingetin kalo apa yang kalian baca di awal postingan ini, memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi postingan, ibarat wanita, itu hanyalah pesoleknya saja, kecantikan tetap apa yang ada di dalam. Terima kasih susah tersesat kemari.

Saturday, 24 December 2011

Anjing !!

Standard

Beberapa hari ini tidur gue mulai gak normal. Kadang pake kaos+boxer, kadang singlet+sarung, kadang gak pake baju+kolor. Nggak lah. Gak normalnya ini bukan dalam berpakaian, tapi jam tidur. Sekarang, paling awal gue tidur jam 12 malam, alhasil tiap ngampus, gue pasti telat. Entah kenapa gue begitu identik dengan kata telat, tiap ngampus telat, ngumpulin tugas telat, datang bulan juga telat. Padahal seharusnya bukan gue yang identik dengan kata telat, tapi kata telatlah yang identik dengan gue. Bingung ? Kita tanya Gallileo.

Semua yang terjadi pada gue ini punya satu penyebab, anjing tetangga gue. Kurang lebih udah tiga minggu tetangga gue pelihara anjing baru, dulu pernah ada tapi tiba-tiba ngilang, mungkin dikurbanin waktu lebaran kemaren. Anjing itu gue gak tau ras apa, gue juga gak berani buat maksa-maksain dia ras apa karena urusan RASa Royko ahlinya.

Saat pertama anjing itu jadi keluarga baru mereka, gue sih asik-asik aja, dari jauh gue liat anaknya baik, sopan, suka maen kejar-kejaran sama tukang koran, selalu izin lagi kalo mau pipis di tiang listrik depan. Terlihat seperti keluarga-keluarga normal lainnya. Tapi entah kenapa seminggu belakangan ini itu anjing suka ngelolong kayak orang nangis tiap malam. Kamar gue posisinya paling deket dengan rumah tetangga gue, Cuma dibatesin pager beton, jadi gue sebagai tetangga yang baik selalu mendengarkan dengan seksama bunyi lolongan itu. Hipotesis sementara gue, anjing ini lagi galau. Omongan orang tua dulu bilang, kalo ada suara anjing yang melolong kayak orang lagi nangis, artinya itu anjing lagi ngeliat setan. Gue yang parno sama hal yang begituan beginian (beginian ajalah, begituan kesannya jelek, sejelek silet, set set set seeeet), menjadi ikutan galau. Apakah benar ada setan di sekolah ? Apakah benar omongan orang tua dulu ? Apakah benar setan dan anjing saling berhubungan ? Tombol biru untuk jawaban Benar, dan tombol merah untuk jawaban Salah. Waktunya 30 detik, dimulai dari sekarang !

Mendapat pertanyaan yang nggak beradap itu, naluri Conan Edokondologit gue muncul. Gue pun mulai menyiapkan beberapa rencana pilihan, antara lain: mengundang Misteri Inc. untuk membantu gue, atau memanggil Ghost Buster atau mencari pemilik sepatu kaca yang tertinggal di tempat sol sepatu. Kalo gue mengundang Misteri Inc, gue takut Defny jadi cinlok sama gue, kasian Fred. Kalo gue manggil Ghost Buster gak mungkin, gue pecinta produk dalam negeri, mending gue panggil tim Dunia Lain. Kalo gue mencari pemilik sepatu kaca, hubungannya apa geblek ?

Oke. Daripada pusing, mending gue kerja sendiri. Tadi malam, lolongan tangis anjing galau itu semakin menjadi. Pagi ini, dengan penuh keyakinan, berbekal dua jam nonton film Canon Conan dan SpongesBob, gue pun mendekati kandang anjing galau dengan cara memanjat pohon jambu di belakang rumah gue. Hari ini banyak banget orang yang lewat, untung gue gak dikira mau maling mangga (yaiyalah, mana ada pohon jambu berbuah mangga, dodol !).

Posisi gue on the top, kandang anjing galau tepat berada di bawah gue. Sebenernya gue kesel abis sama itu anjing, rasanya pengen gue kencingin dari atas, tapi niat mulia itu gue urungkan, gue gak mau nanti ada yang ngeliat dan teriak histeris, “MAMA, AKU MAU ITU MAAA !! UNYU BANGET MAAA !!”. Mamanya pingsan.

Ada beberapa trik yang bisa gue pake. Pertama, gue bius dengan amoniak tingkat tinggi, lalu gue culik, bawa ke ruang kosong dengan satu lampu, gue introgasi sambil mukulin itu anjing pake tulang. Kedua, gue pura-pura jatohin jambu, lalu dia nolongin gue buat ngambil jambu itu, lalu tangan kita gak sengaja kepegang, akhirnya kita kenalan. Ketiga, pake pendekatan men to men marking, lho cemen gue kerokin. Tapi sepertinya trik-trik itu tidak berprikeanjingan, gue juga gak mau Kak Seto dateng ke rumah gue, akhirnya gue lebih menggunakan pendekatan personal.

Gue mulai mengubah settingan dasi kupu-kupu gue menjadi transleter bahasa anjing. Pelajaran pertama. Kalo lho mau ngedeketin anjing, usahakan penampilan jangan menyerupai tulang berjalan. Ini yang sulit buat gue. Badan gue yang kayak tetelan atletis ini, tentu mengundang birahi si anjing untuk mencicipi gurihnya tulang lunak. Segala macam cara gue coba, selalu gagal. Lalu gue inget cara Tarzan. Gue pun mencobanya. Gue tatap matanya dalam-dalam, lalu gue berkata dengan terbata, “ Wawan teman anjing, anjing teman wawan, kita semua teman !”. Berhasil. Si anjing mengerti, kita pun kenalan.

Ini adalah investigasi gue dengan anjing galau laknat itu.
Gue       : Santai njing, niat gue baik, gue gak bakalan nyentuh lo (najis men).
Tenang, lo berada di orang yang tepat sekarang, selesai kita ngobrol pun, lo gue jamin masih perawan.
Anjing   : Gue jantan goblok !
Gue       : Sory-sory, jadi nama lo siapa ?
Anjing   : Nama gue Choki.
(Buseet !! Kerenan nama anjing dari nama gue)
Ada perlu apa lo ?
Gue       : Jujur ya, kita curhat-curhatan aja ni. Sebenernya gue terganggu dengan lolongan lo tiap malem. Gue jadi susah tidur, BAB gue gak lancar, cewek gue ngira gue homo.
(Si anjing garuk kepala)
Intinya, lolongan lo buat gue, mungkin juga orang satu gang ini jadi terganggu. JADI TERGANGGU !! Jengjeng.

Si anjing diem. Mungkin dia sedang merenungi dosa-dosa terkutuknya.

Gak lama, si anjing melolong nangis lagi.

Makin kenceng !!

Gue bingung setengah mati. Gue takut dikira tetangga gue mau perkosa anjingnya. Gue pun segera turun pohon dan masuk kedalem rumah. Gue belom dapet info apa-apa dari si anjing, gue cuma dapet nama, tapi gue sempet curhat dikit (mimpi apa gue semalem, curhat sama anjing).

Gue putusin pengumpulan data hari ini cukup sampai di sini. Di hari berikutnya gue harus bisa dapet jawaban dari pertanyaan-pertanyaan biadap itu dan harus bisa mengakhiri jam tidur gak normal gue. Ini semua demi kuliah gue, demi seluruh umat manusia di dunia, Demi Moore juga.

===== belum The End ===== tunggu season berikutnya ====== Cinta Fitri akan tersaingi ======

Wednesday, 14 December 2011

Antara Hororisme dan Harga Diri

Standard
Beberapa waktu yang lalu, gue sempet maen-maen ke Jogya. Ini adalah pertama kalinya gue nginjakin kaki gue di tanah Jogja. Di sana gue tinggal di rumah bude gue di Desa Barak, Godean, Kabupaten Sleman. Gue sampe di rumah bude gue sekitar jam 8 malam, karena pantat gue yang udah pegel duduk terus, begitu turun dari mobil gue langsung ke halaman di samping rumah sendirian. Sambil menikmati apel yang sempat di beli sewaktu diperjalanan, gue joget-jogetin pantat gue biar gak kram dengan gaya Rickysi yang lagi smack down lawannya . Apel itu pun habis dalam waktu sesingkat-singkatnya atas nama bangsa Indonesia. Lalu gue lempar sisa apel tadi jauh ke arah depan dengan penuh kesemena-menaaan. Gak lama paman gue dateng.

Paman  : “Jangan lempar sembarangan”.
Gue       : “Laah, cuma kebon kok”.
Paman  : “Yang dibelakang itu kuburan wawan”.
Gue       : “Hah !”

Tanpa babibu gue langsung masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, semua keluarga udah pada ngumpul. Sekedar info, gue pergi ke Jogja bareng ibu gue, paman + istrinya + anaknya umur 2 tahun sekian bulan, dan tiga orang mbah gue. Awalnya gue juga gak tau bakalan ada rencana buat pergi ke Jogya. Hingga tiba pada suatu sore yang cerah ibu gue bertanya dengan penuh kasih sayang, “Minggu depan mama mau ke Jogja, mau ikut ndak ?”. Seperti Popeye yang diberi Olif, gue pun menjawab dengan antusias,” Ikuuuuuuuut”. Gue gak mikir macem-macem, yang ada dipikiran gue adalah ke Jogja, liburan, jalan-jalan + cari buku. Tapi akhirnya setelah sampai di Jogya gue sadar, gue diajak buat jadi tukang foto, tukang angkut-angkut barang juga belanjaan dan tukang pijit kalo tiba-tiba ada serangan pegal melanda ibu gue (untung gue gak dijual buat nambahin uang belanja). Derita anak.

Gue di kenalain satu persatu sama sodara-sodara gue. Sodara gue yang baru gue kenal sekarang antara lain, Mbak Nining, adeknya Mbak Nining (gue lupa namanya.hhe.), Herny dan Iwan (lagi-lagi bertemu dengan akhiran nama yang pasaran). Setelah ngobrol-ngobrol, ketawa ketiwi, lalu dengan akrabnya Herny ngajakin gue buat ngambil motor di rumahnya. Gue yang lagi dodol mengiyakan ajakan sodara perempuan gue. Waktu itu kalo gak salah jam 9 malam, tapi suasana di sana bener-bener sepi, masih banyak pohon gede di tepi jalan, udah gitu di sana jarang banget lampu jalannya. Gue yang phobia sama hal-hal mistis, seperti hantu, ngepet, copet (eh, ini gak ya), jadi bener-bener seperti masuk ke sarang jerapah. Ditambah lagi, akhir-akhir ini gue lagi seneng baca novel karangannya @poconggg sama @kuntisimilikiti. Ini semakin membuat pikiran gue kacau. Dalam banyangan gue, gue bakalan ketemu sama kunti sexy yang lagi nungguin orang lewat di atas pohon duren, ngalusin mukanya pake kulit durian, sambil cekikikikan. Kalo gak gue bakalan ngeliat pocong yang nyungsep di  got gara-gara nggak bisa loncatin portal. Pokoknya semua pikiran mistis itu lagi pada nongkrong di otak gue (bukan lagi pup).

Singkat cerita kita sampai di rumah Herny, dan nasib belum memperbolehkan gue tertawa. Di sana ada temannya Herny, si Endut (bukan karna kenal, ini nama yang gue berikan karna bentuk bempernya) lagi ngerjain tugas, setelah menunggu agak bentar kita akhirnya nganterin si Endut pulang. Sebagai seorang Laki yang gak kelaki-lakian, gue dengan yakin ikut nganterin Endut pulang. Lelaki memang selalu di uji. Jalan yang kita lewatin kali ini, lebih horor dari jalan yang tadi. Sekarang di sebelah kanan gue ada semacam sungai kecil, yang entah mengapa namanya adalah Selokan Mataram. Gue bilang sama Herny, “Segede gini selokan ? kalo di Pontianak yang segede gini juga ada, tapi namanya Sungai Jawi”. Herny ketawa, lalu bilang, “Kalimantan primitif sih, isinya hutan semua”, wakakakakak. Gue diem. Di sebelah kiri gue semak-semak tinggi, yang kalo ada orang iseng yang nyulik, terus perkosa gue di sana udah pasti gak akan ketahuan oleh hansip di RT manapun. Lalu tanpa lampu jalan sama sekali, dengan jalan yang naik turun, gue serasa jadi ninja hatori yang mendaki gunung lewati lembah. Sepanjang perjalanan gue Cuma bisa diem dan berdoa dalam hati, semoga saja poconggg gak dinas di sini, gue gak pengen mati ngakak.

Kehororan itu bertambah ketika secara biadapnya motor yang gue pake kehabisan bensin dan berhenti di tengah kegelapan yang mencekam, si Endut yang jalan di depan udah gue klakson-klakson gak juga balik. Gue lambai-lambai tangan ke kamera, gak juga ada tim Dunia Lain yang datang. Ah, mati konyol gue di Jogja. Gue Cuma bisa senyum pasrah, senyum terbaik untuk mengendalikan situasi seperti ini. Herny ? Cuma diem cengengesan.

Akhirnya ide cemerlang gue muncul, TELPON ENDUT ! (entah kenapa ini terkesan biasa).

Herny lalu menelpon Endut yang gak tau diri jalan semau kentutnya ninggalin kita yang nganterin dia.

Endut datang dengan wajah tak berdosa. Dan memulai percakapan dengan bahasa jawa yang kira-kira artinya seperti ini.

Endut    : kok berenti di sini ? berani bener .
Herny    : bensinku habis, kamu jalan di depan gak liat-liat belakang.
Endut    : laaah, aku takut kalo tiba-tiba di belakangku ada yang nebeng gimana ?
Herny    : dugong kok takut hantu ?
Gue       : udah hei, ayo jalan. Udah malam, besok kuliah.

Dengan naluri lelaki gue ikut nimbrung di pembicaraan mereka. Naluri gue timbul bukan untuk jadi penengah, tapi karna takutnya gue mati tragis di tepi selokan.

Kita pun lanjut jalan, hingga akhirnya berhasil melewati jalan tercekam selama gue di Jogja. Masalah lain timbul, karena udah cukup malam, kios bensin banyak yang udah tutup, sementara kaki gue udah pegel dorongin motor yang ditumpangin Endut dan Herny, rasanya lebih mirip gue lagi dorong gerobak konteiner yang bawa gas elpiji 12 kg. (setelah nulis cerita ini gue sadar, kenapa gue gak boncengan sama Herny, dan dorong motor yang kehabisan bensin + Endut di atasnya, atau gue boncengan sama Endut dan dorong motor yang kehabisan bensin + Herny di atasnya, kenapa gue milih buat dorong motor yang kehabisan bensin + Endut dan Herny di atasnya ? kenapa ? kenapa gue segoblok ini ? kenapa ?)

Ada kira-kira satu kilometer gue dorong-dorongan, kios bensin satu-satunya yang masih buka berhasil kita capai. Kios ini bagai malaikat penolong buat gue.

Akhirnya penderitaan gue berakhir, kita melanjutkan perjalanan yang entah dimana akhirnya. Diperjalanan gue mencoba buat menenangkan diri, gue pun mulai membuka obrolan.

Gue       : di sini sepi ya, padahal masih awal ?
Herny    : ya iyalah, namanya juga di kampung
Endut    : emang kalo di pontianak rame ?
Gue       : kalo di daerah aku sih rame. Eh, tapi di sini biarpun kampung, tapi jalannya mulus ya, kampung maju nih. Haha
Herny    : iyalah maju, emangnya kalimantan masih primitif.

Herny + Endut ketawa ngakak, gue manyun.

Gue muter otak, gimana caranya bales mereka, harga diri kalimantan ada di pundak gue sekarang. Merdeka ! Dengan birahi yang berapi-api gue mulai ngomong lagi.

Gue       : eh, udah tau belom ?
Herny+endut     : apa ?
Gue       : orang kalimantan itu makan orang lho !
Herny+endut     : hah !

Gue senyum kemenangan. Akhirnya gue bisa buat mulut mereka bungkam, hidung mereka berkaca-kaca, mata mereka mimisan. Sampai selesai nganterin Endut dan gue pulang ke rumah, mereka tetap diam. Yang gue tau mereka pasti terkesima oleh kata-kata gue dan yang gue gak tau, mungkin mereka berpikir, orang kalimantan itu selain primitif, mereka juga kanibal.

Thursday, 8 December 2011

mikir iseng

Standard
Huaahha. Udah lama nggak update, gue masih ada di Jogya nih, ceritanya entaran aja ya, lutut gue masih capek, jadi sekarang gue cuma pengen ngasi pikiran-pikiran iseng aja. OK !

1)      Kalo ada orang yang meninggal, kita biasanya bilang, "Semoga diterima di sisi/pangkuan-Nya". Di dunia ini udah berapa banyak orang yang meninggal, lho bisa bayangin udah sepanjang apa jejeran orang di sisi-Nya atau di pangkuan-Nya Tuhan, menara Eifel kalah kali ya ?

2)      Orang kalo udah nikah, akan pake cincin di jari manis sebelah kiri. Gue bingung sama mereka yang poligami, istrinya sampai empat atau lima, tangannya penuh cincin dong, itu cowok atau bencong ?

3)      Gue dapat info kalo pendapatan tuyul perhari itu tergantung pada harga tuyul ketika si Empunya beli. Kalo beli tuyul yang harganya seratus ribuan pendapatannya sekali dinas juga seratus ribuan, harga lima puluh ya dapatnya lima puluh. Kok nggak pada beli tuyul indukan, diternakin baru di jual lagi. Orang yang pelihara begituan nggak pernah ikutan training enterprenuer kali ya ?

4)      Gue dapet info juga, katanya orang yang pelihara tuyul itu pasti punya kamar khusus buat si tuyul yang nggak boleh sembarang orang masuk. Sekarang gue bukan iseng lagi, gue iri banget, gue aja tidur masih berdua, masa tuyul punya kamar sendiri. ARRGGGGGG!