Friday, 29 November 2013

Dialog Hari Kemerdekaan

Standard


“Lihatlah teman. Tatapan, senyum juga gestur mereka. Mereka begitu menghormatimu.”
“Aku memang dihormati. Pada hari ini, setiap tahun mereka selalu menjunjung aku. Tinggi, tinggi sekali. Tentu dengan bantuanmu. Bahkan, tak jarang mereka membawaku ke tempat paling dalam. Penghormatan padaku, kata mereka.”
“Lalu, kenapa kau tampak muram? Bukankah ini yang selalu diinginkan banyak orang? Bahkan sejak sebelum kau ada.”
“Dulu, ketika Ibu Fatmawati menjahit aku. Aku merasakan cinta, haru dan bangga disaat yang sama. Tiap benang yang menyatukan aku terasa begitu dalam, benang-benang dari tetesan keringat, darah yang tumpah, tangis yang pecah. Mengikat kuat seperti tekat para pejuang, membebaskan tanah tempat kau berpijak sekarang. Dulu, ketika pertama kali aku dikibarkan. Aku melihat wajah-wajah pemimpin sumringah, suara bahagia rakyat terjajah, sorak-sorai kemenangan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang aku wakili bersama teriak, “MERDEKA!!”. Hatiku bergetar kawan, getar yang berbeda dengan sekarang. Dulu tangisku bangga, kini tangisku duka. Benar kata Soekarno, perjuangan mereka akan lebih berat karena mereka melawan bangsanya sendiri.”
“Mereka butuh waktu teman, tidak mudah untuk menjadi satu di antara segala perbedaan.”
“Kita tidak perlu menjadi satu, kita diciptakan berbeda agar kita saling mengenal, saling menghargai, bertoleransi. Keberagaman itu warisan, kita cukup bersatu bukan menjadi satu. Biarkan kita tetap kaya dengan warisan, atau hancur atas nama perbedaan.”
“Hmmm..kau benar teman. Sudah lama aku berdiri di tanah yang katanya surga ini, surganya Tuhan segala manusia. Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian atas nama Tuhan mereka saling membunuh. Mungkin mereka lupa arti “ketuhanan” sesungguhnya.”
“Aku memang tidak pernah berdiri langsung di tanah ini. Jika bukan atas bantuanmu aku tidak mungkin bisa melihat mereka. Rakyat Indonesia telah merdeka, merdeka dari bangsa lain, kemudian dijajah bangsanya sendiri.”

Sang saka Merah Putih berkibar di depan  ratusan ribu pasang mata rakyatnya, berpegang pada tiang bercat putih ia memandang jauh keseluruh pelosok negeri. Kemerdekaan yang mati suri.

Related Posts:

  • Menunggu Aku baru saja keluar. Di dalam, air bah tumpah dari ceruk mata empat kepala. Sesuatu yang aneh bin langka. Biasanya, keluarga pasien yang akan melaku… Read More
  • TRAPS Minggu kemaren, gue ikutan acara di kampus, Training of Public Speaking. Pesertanya rame, mayoritas anak angkatan baru, gue tau bukan karena gue ken… Read More
  • Perihal Jodoh “Ceritakan padaku perihal jodoh,” kata gadis itu sambil memainkan jari tangan kekasihnya di bangku taman kota. Maka, diceritakanlah padanya sebua… Read More
  • Patah Hati adalah Cara Terbaik untuk Hidup Kembali Hatinya patah lagi. Entah masih berbentuk atau tidak kali ini. Yang jelas, di sini ia kembali meratap. Aku tidak asal menebak. Aku tahu kisah-kisahny… Read More
  • Smack Down Hidup berawal dari mimpi, tapi terkadang mimpilah yang berawal dari hidup. Semalem, gue ngumpul bareng anak-anak haha brother, temen-temen esema gue… Read More

1 comment: