Tuesday, 8 November 2011

'Menunggu Pagi"

Standard

Kita ada di pagi yang sama hari ini, sinar mentari yang kita rasakan pun sama. Hanya saja aku masih takut. Aku masih takut akan sinar mentari yang ku pikir bisa membuatku terbakar seperti dahulu. Aku tahu sinar mentari ini penuh keindahan, penuh kasih sayang, dan penuh kehangatan, tapi aku belum berani beranjak dari tempat tidurku, aku belum berani keluar dari kamarku yang sempit. Pernah sekali ku coba keluar dan merasakan sinar mentari. Aku senang, aku segar, aku merasa jauh lebih baik karena itu, sampai akhirnya datang burung gereja kecil menghampiriku dan berbisik, mengatakan ini bukan diriku, aku menjadi orang lain dalam ragaku, jiwaku tahu, ia tidak membisu, tapi sesuatu menulikanku. Meski aku menikmati kehangatan sinar mentari itu, aku harus kembali ke kamarku, karena itu bukan aku.

Di pagi yang lain, dari sudut jendela kamar, ku lihat burung-burung gereja kecil yang bercengkrama satu sama lain, bernyanyi dengan kicaun merdu, di bawah sinar mentari yang aku rindu. Terbang dari satu dahan ke dahan lain, kadang mereka hinggap dan saling menatap. Indah, seakan ada nada untuk setiap kicaun dan gerakan. Aku tersenyum, mereka bisa begitu karena mereka bebas, tidak dalam tempat sempit walau itu sangkar emas. Aku terdiam dan bertanya, haruskah aku kembali keluar, bermain dengan sinar mentari, menikmati setiap keindahannya, merasakan hangat pelukannya ?

Pagi berikutnya. Kini sinar-sinar mentari yang menghampiriku, aku pun bersiap, mungkin ini waktunya aku keluar, kembali bermain seperti burung-burung gereja kecil yang terkadang membuatku iri dikala pagi. Aku coba, aku sambut dengan tangan terbuka, ku biarkan setiap jengkal tubuhku merasakan kehangatan, menikmati keindahan, namun entah mengapa, aku pun bimbang. Inikah yang aku mau, inikah yang aku butuhkan, inikah jawaban dari semua pertanyaan. Lalu siapa, mentari memang hanya satu, namun sinarnya lebih dari satu. Kembali pada logika, aku dilema. Pilihan memang memudahkan, tapi memilih itu menyulitkan. Hingga akhirnya aku yang membuat pilihan, aku tetap pada masaku.

Banyak pagi yang terlewat, banyak pagi tanpa sinar mentari, juga banyak pagi untuk gereja kecil tetap bernyanyi. Seperti biasa tetap saja ku nikmati pagi-pagi yang aku miliki, walau dari kamar sempitku. Dari kamar dengan satu jendela dan satu pintu. Dan dari kamar itu aku mengunggu. Menunggu pagi seperti waktu dulu, menunggu pagi dengan sinar mentari yang menghangatkanku, menunggu pagi yang aku rindu.
Akhirnya pagi itu datang, pagi yang aku rindu. Ya, pagi ini. Pagi dengan sinar yang menjadi pelukis senyumanku, pagi dengan sinar seorang seniman hati bagiku. Pagi ini, pagiku.

09.54 PM ; 21 Mei 2011

Related Posts:

  • Tuan Abadi Selamat abadi, Tuan! Jika Tuan tak menulis Tetralogi Buru, saya tak mungkin bisa berkenalan dengan Raden Mas Minke dan Nyai Ontosoroh, mereka sung… Read More
  • Hujan Saya tidak mengenalmu secara baik. Kita hanya sering bertemu. Tak saling bicara bahkan, namun dalam beberapa kesempatan, saya menatapmu lama. Seperti… Read More
  • Teruntuk Kamu Selamat tanggal 1! Sebentar, kita pernah merayakannya? Seingat saya, hanya waktu ulang tahun pertama, itu pun diundur untuk perayaan yang lebih ra… Read More
  • “Wijaya yang Tak Berjaya” Dimuat di E-Magz Nouvalitera edisi Maret 2014 Perkenalkan namaku Wijaya Kusuma. Aku adalah salah satu peliharaannya. Tidak banyak yang tahu… Read More
  • Tetangga Sebenarnya, saya kurang nyaman ketika harus menuliskan ini pada Anda, Tuan. Tapi, sebagai tetangga yang baik, saya kira, kita harus saling mengingatk… Read More

1 comment: